Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

Mmm...

"kriiing...kriiing..."
+++  : "Assalamualaikum!"
Mimi : "Wa'alaikumsalam, nuju naon?"
+++  : "nuju mamam Mii..."
Mimi : "eh, jadina kapan atuh itu teh? mimi tos meser segala barang dapur, lengkap. Meser teflon dari ukuran terkecil sampe terbesar, dll"
+++  : gleeek...!! nelen ludah, "yaa ampuuun...alhamdulillah, janten ngkee teu kedah belanja barang2 dapur lagi  ya Mii?hehee.."
Mimi : "iyee, sok enggal sing dipaparinan kemudahan"
+++  : "amiin..." (*menitikkan air mata)

Jumat, 02 November 2012

Mendung...

Saat momentum itu….langit hati terasa mendung, dan tanpa sadar gerimis pun turun dengan perlahan dari pelupuk mata ku. Seorang sahabat yang melihat ku hanya terdiam membisu. Aku merasakan kerapuhan yang mendalam, diri merasa tak kokoh lagi. Tidak, aku tidak mau menjadi orang lain yang kehidupannya selalu terlihat anggun dan berseri. Memang, rumput tetangga akan selalu terlihat hijau. Hm…astaghfirullah, hati ini kurang bersyukur. Terkadang hati egois menginginkan sesuatu yang memaksakan, tanpa melihat sudut lain dari sebuah keadaan. 



10 April 2012
Poka-2, 12.52 pm

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bintang Sirius di Ufuk Oktober



Tak terasa…
Kini usiaku tak lagi “bayi kecil” yang mendekap sayup dipangkuan sang bunda, usiaku tak lagi “kanak-kanak” yang mengeja kebahagiaan di loteng-loteng suci, usiaku tak lagi “remaja” yang mencari makna kesejatian diri. Tak lagi…
Tapi, kini ku harus bertanggungjawab atas hempasan waktu yang dianugerahkan-Nya untukku dalam mengarungi jalanan hidup sebatas usia.
Kematangan raga harus disertai kematangan jiwa.  Kematangan intelektual harus disertai kematangan emosional. Kematangan pribadi harus disertai kematangan sosial. Kematangan pandangan harus disertai kematangan pendengaran…
Kematangan…!!
Ya Rabb, kugoreskan sebaris mutiara hati yang tercecer di pintu langit-Mu. Kumohonkan agar Engkau mengaruniakan kekuatan pada raga ini yang mulai terkulai lemah tiada daya. Aku ingin seonggok amal ditengah puing-puing usiaku bermakna di sisi-Mu.
Sirius…
Bintang yang terlihat paling terang dari bumi…kadang jika bintang lain tertutup awan…hanya dia yang bisa terlihat…
Aku ingin menjadi seperti Sirius…
Seburuk apapun cuaca diatas sana…dia tetap bersinar terang…
Tapi kata para ahli, bintang yang sangat terang itu memancarkan energi yang sangat besar pula, sehingga memperpendek umurnya, hmmm…
Bagaimana nanti aku akan dikenang…?
Bagaimana nanti aku akan dikenang oleh sahabatku?
Bagaimana nanti aku akan dikenang oleh saudara-saudaraku?
Bagaimana nanti aku akan dikenang oleh orangtuaku?
Entahlah…
Kita tak akan pernah tahu hingga saatnya tiba…
Kawan, mari selami waktu dengan penuh cinta…
Jangan siakan sedetikpun tanpa memuaskan ingin-Nya…
waktu bergulir begitu singkat, sesingkat cahaya matahari terpancar ke bumi…sesingkat Sirius berotasi di pusarannya…sesingkat rembulan membentuk sabitnya…sesingkat usiaku memutar roda kehidupan…
Helaan nafas yang masih tersisa, jadikan bak permadani yang siap mengantar terbang menuju awan…
Lilin-lilin kecil pun kan bersinar memberikan kekuatannya untuk menerangi balok empat dimensi. Dan…dipojok sejarah akan tergores nama indahmu…
Akankah menjadi Sirius?
. . . . .
Green house
Sekeloa, 13 Oktober 2012
Memintal benang hikmah, kala usia di ufuk Oktober
)(Aish)(

Selasa, 04 Oktober 2011

Sisa-sisa Suara


Ada sisa-sisa suara yang bergema dalam dada
Aku tak mendengar apapun, gemuruh di luar pintu,
ia terus mengejarku, ia terus menghatuiku
Mengendalikan seluruh gerak dan naluriku

Ada akal yang masih bening, ada budi yang masih jernih
Bertarung serentak bergumul bola-bola api,
ia terus membelenggu, ia ingin melukaiku,
membalut semua indra akal fikirku

Ada yang tak dapat aku lepas meskipun berulang aku coba
Waktu berputar semakin cepat, aku telah jauh tertinggal
Ada yang tak pantas aku sandang, setumpuk penghargaan
Lebih baik kutelan kata-kataku, angan-anganku

<lirik Ebiet G Ade>

...........Sering kita terlupa dengan jejak-jejak bayang sebuah perjuangan.  Apapun yang dimiliki menjadi sebongkah pengorbanan dan penghambaan  pada-Nya. Merasa diri cukup meneteskan keringat  kering demi sebuah kotak impian besar ummat ini. Ego diri terlalu naif untuk sebuah pengakuan dihadapan-Nya. Percikan kata-kata penghias samudera hati, menghilangkan hausnya sebuah perantauan. Suara itu nyaris bergemuruh dalam dada ini, menghentikan nurani langkah ku. Diri tak kuasa menanggung rasa yang bergulat di peraduan anugerah-Nya. Cukup...cukup hanya Karena-Nya saja kita bertahan disini. Bukan karena sisa-sisa suara yang masih terngiang  di telinga. Bukan desahan-desahan manis yang kerap menggoncang lurus dan sucinya niat ini. Tidak semestinya mentari kesuksesan terbit dari sisa-sisa suara yang terus menghantui. Tidak pantas, sungguh tidak pantas.

05.24 PM

Sabtu, 01 Oktober 2011

Because I miss U


Lelah menunggu...
Menunggu datangnya kemanisan cengkrama bersama keluarga. Jarak kilometer menjembatani fisik kami, tapi tidak dengan hati kami. Ingin rasanya menoreh kembali potongan episode yang telah lama tidak kami ukir bersama. Saat bisikan-bisikan lirih ayah ku dalam nasihatnya, saat kami terhanyut dalam irama jenaka, saat bertukar dahsyatnya ilmu, huhh...rindu. Biarlah...biarlah semuanya terlukis dengan indahnya disini, di dalam hati ini.

Diriku yang sekarang bukan semata-mata buah karya diri sendiri, tapi ketulusan doa yang kau haturkan di sela isak tangismu di sepertiga malam. Tuturmu yang indah selalu menghiasi lansekap harianmu. Aku melihat ada segurat harapan di wajahmu tentang diriku. Harapan agar aku menjadi sosok  pribadi yang baik, pribadi yang selalu menebar manfaat, pribadi yang kelak menggoreskan tinta sejarah emas peradaban. Betapa agung. Diriku harus berikhtiar untuk memantaskan diri menjadi pribadi harapan mu. Yaa, Bismillah...

Ayah...Ibu...aku rindu. Disaat banyaknya kesulitan menghimpit, aku ingin berkesah di pundakmu. Aku rindu. Aku merasa sendiri, terasing. Izinkan...izinkan aku merindu mu.

Hati yang merindu
11.13 AM



Terkadang Asing...


Pagi itu... mendung. Bukan langit yang mendung, tapi hati. Semua seolah tak seperti biasanya. Tidak ada “canda”, tidak ada “tawa”, bahkan “sapa” pun hilang entah kemana. Hati riuh bergemuruh menyimpan sejuta tanya, “kenapa hal ini kerap kali terjadi?”. Agenda harian pun berlalu begitu saja tanpa menggores makna, sungguh...hati ini terasa asing. Asing dengan kawan, asing dengan rutinitas, asing dengan diri sendiri. “Harus menyalahkan siapa?”, tangis pun membuncah dari pelupuk mata, semakin tidak karuan. Apakah ikhtiar dakwah ini belum cukup untuk mengenalkan siapa diri ini? Ada yang salah, ya...ada yang salah. Mungkin dakwah ini belum menyentuh lapisan terdalam hati orang-orang di sekeliling kita, sehingga diri ini terasa asing. Asing dengan keadaan. Tapi bagaimana dengan sabda Rasulullah dalam Hadits Bukhori yang menyatakan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing...” ?. Bukankah seorang penerus estafet risalah itu akan termasuk kedalam golongan minoritas? dan yang minoritas itu adalah asing, yaa...asing. Begitulah kawan, asingnya kita itu disebabkan oleh apa? apakah asingnya kita termasuk dalam sabda Rasulullah? ataukah karena seonggok ikhtiar dakwah yang jauh dari semestinya?...

Di lain hari, langit hati begitu cerah. Jalan tegap penuh asa dan percaya diri. Bersua dengan kawan, rutinitas, dan diri sendiri, semuanya terasa menyenangkan. Ada sesuatu pada diri yang membuat sekeliling sesuai dengan harapan. Senyum simetris menjadi penghias hari-hari. Kesibukan menunaikan tugas-tugas dakwah terasa begitu ringan. Diri ini merasa dekat dengan kawan-kawan sekitar, bahkan yang hedonis sekalipun. Tidak asing sama sekali. Jika mendapati beberapa kesulitan, banyak kawan yang mengulurkan tangannya untuk membantu. Hmmm...Alhamdulillah. Inilah sifat Rahim-Nya yang luar biasa, karena sayang-Nya lah membuat semuanya mudah. Hati pun jernih dan penuh ketenangan.

Itulah sekelumit kisah yang mungkin pernah dirasakan. Kejadian-kejadian yang berlalu depan mata kita adalah sebongkah wujud kedekatan kita dengan Allah Azza wajalla. Jika hubungan kita dengan Allah itu baik, maka baik pula hubungan kita dengan sekeliling kita. Sebaliknya, jika hubungan kita dengan Allah itu renggang, maka akan renggang pula hubungan kita dengan sekeliling kita. Begitulah...



09.58 WIB
Curahan di pagi yang mendung, astaghfirullah...
_Aish_