Ada sisa-sisa suara yang bergema dalam dada
Aku tak mendengar apapun, gemuruh di luar pintu,
ia terus mengejarku, ia terus menghatuiku
Mengendalikan seluruh gerak dan naluriku
Ada akal yang masih bening, ada budi yang masih jernih
Bertarung serentak bergumul bola-bola api,
ia terus membelenggu, ia ingin melukaiku,
membalut semua indra akal fikirku
Ada yang tak dapat aku lepas meskipun berulang aku coba
Waktu berputar semakin cepat, aku telah jauh tertinggal
Ada yang tak pantas aku sandang, setumpuk penghargaan
Lebih baik kutelan kata-kataku, angan-anganku
Aku tak mendengar apapun, gemuruh di luar pintu,
ia terus mengejarku, ia terus menghatuiku
Mengendalikan seluruh gerak dan naluriku
Ada akal yang masih bening, ada budi yang masih jernih
Bertarung serentak bergumul bola-bola api,
ia terus membelenggu, ia ingin melukaiku,
membalut semua indra akal fikirku
Ada yang tak dapat aku lepas meskipun berulang aku coba
Waktu berputar semakin cepat, aku telah jauh tertinggal
Ada yang tak pantas aku sandang, setumpuk penghargaan
Lebih baik kutelan kata-kataku, angan-anganku
<lirik Ebiet G
Ade>
...........Sering kita terlupa dengan jejak-jejak bayang
sebuah perjuangan. Apapun yang dimiliki
menjadi sebongkah pengorbanan dan penghambaan
pada-Nya. Merasa diri cukup meneteskan keringat kering demi sebuah kotak impian besar ummat
ini. Ego diri terlalu naif untuk sebuah pengakuan dihadapan-Nya. Percikan
kata-kata penghias samudera hati, menghilangkan hausnya sebuah perantauan.
Suara itu nyaris bergemuruh dalam dada ini, menghentikan nurani langkah ku.
Diri tak kuasa menanggung rasa yang bergulat di peraduan anugerah-Nya.
Cukup...cukup hanya Karena-Nya saja kita bertahan disini. Bukan karena
sisa-sisa suara yang masih terngiang di
telinga. Bukan desahan-desahan manis yang kerap menggoncang lurus dan sucinya
niat ini. Tidak semestinya mentari kesuksesan terbit dari sisa-sisa suara yang
terus menghantui. Tidak pantas, sungguh tidak pantas.
05.24 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar