Self mapping (personality disorder):
Bermacam
karakter yang sering kita jumpai dalam keseharian, misalnya:
Kasus 1: “sueer…!! orangnya rapi banget,
detail, sistematis, lantai kamar kosnya cling deehh, barang-barang di kamarnya tertata
dengan baik”
Kasus 2: ”caper banget sih dia, suka mengada-ngada
padahal tidak mampu, selalu pengen terlihat keren”
Kasus 3: ”ya ampuun…orangnya cuek abiis, tidak
memperhatikan penampilan sama sekali, kalau bicara semaunya, tidak menyadari
lawan bicaranya sakit hati”
Kasus 4: ”dia ramah banget, supel, langsung
akrab. Costumer service laah”
Kasus 5: ”didepan siih dia terlihat slow down, tapi ternyata menusuk dari
belakang. Ibarat blangkon”
Pernah kan kamu
menjumpai orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas? Naaah…karakter
manakah yang menurut kamu ituuu “gue banget”?, okee di bawah ini akan
dijelaskan beberapa karakter diri.
1. Merasa diri paling hebat
2. Seringkali memiliki rasa iri pada
orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is
often envious of others or believes that others are envious of him or her).
3. Merasa sukses dan pintar
4. Sangat ingin dikagumi (requires
excessive admiration).
5. Kurang empati (lacks
of empathy : is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs
of others).
6. Merasa layak memperoleh keistimewaan (has a
sense of entitlement).
7. Angkuh dan sensitif terhadap kritik (shows arrogant,
haughty behavior or attitudes).
8. Over percaya diri
9. Yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat
dimengerti hanya oleh atau harus dengan orang
atau institusi yang khusus atau memiliki status tinggi.
10. Merasa superior, selalu ingin
merasa unggul dan takut direndahkan.
11. Perumpamaan : “lebih suka
menjadi ikan BESAR di kolam SEMPIT daripada menjadi ikan KECIL di kolam LUAS”
Contoh
kasus:
“Galih
merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.
Ia dipercaya oleh dosennya untuk menjadi seorang asisten. Dia merasa senang dan
bangga atas dirinya, sehingga dia akan memperlihatkan performa terbaiknya.
Ketika dia mendapatkan pujian/penghargaan, dia merasa dirinya paling hebat.
Ketika penghargaan itu hilang darinya, dia akan berusaha mendapatkannya kembali,
bagaimana pun caranya. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk terlihat eksis
dan keren. Dia akan melakukan berbagai macam cara agar orang-orang di
sekitarnya menghargai dan mengaguminya. Dia haus akan pujian”.
Contoh
lain: kisah seorang Arab Baduy pada zaman Rasulullah. “seorang arab baduy membuang
air kecil (kencing) secara sembarangan ditempat ibadah kaum muslimin. Kemudian
para sahabat marah terhadap perbuatan seorang arab baduy tersebut hingga hendak
memukulnya. Akan tetapi, Rasulullah tidak marah sama sekali. Beliau hanya
memerintahkan para sahabat untuk menyiramkan air ke tempat tersebut (tempat
yang dikencingi seorang arab baduy). Begitulah cara Rasulullah mendidik para
sahabat dan seorang arab baduy”. Seorang arab baduy ini memiliki sifat
narsistik, dia merasa hebat dan unggul di atas kaum muslimin, sehingga ia
membuang air kecil secara sembarangan di tempat ibadah kaum muslimin. Sikap
yang ditunjukkan seorang arab baduy tersebut merupakan bentuk –merendahkan-
kaum muslimin.
Kesimpulan:
Secara bahasa umum, karakter tersebut sama
dengan “Sombong”. QS. Luqman : 18,
QS. Al Hadiid : 23, QS. Al Israa : 37.
1. Ramah dan mudah bergaul
2. Suka berbagi agar membuat
orang lain senang
3. Ingin dianggap ramah dan
lucu.
4. Mencari pembenaran dan
dukungan dari orang lain.
5. Memaksakan kehendak terhadap
orang lain.
6. Terlalu mendramatisir
keadaan dengan menunjukkan reaksi emosi yang berlebihan (drama queen).
7. Terlalu sensitif terhadap
kritikan dan ketidaksetujuan dari lingkungan.
8. Sikap atau penampilan
menggoda yang tidak pada tempatnya.
9. Terlalu perhatian pada
penampilan fisik.
10. Kebutuhan untuk menjadi
pusat perhatian.
11. Toleransi yang rendah
terhadap frustasi dan kegagalan (kegembiraan yang tertunda).
12. Menunjukkan perubahan emosi
secara cepat.
13. Mudah GR, melambung…
14. Membuat keputusan secara
terburu-buru.
15. Mengancam akan melakukan
tindakan bodoh untuk mendapatkan perhatian (misalnya bunuh diri).
16. kebutuhan akan perhatian dan
sikap posesif terhadap apa pun yang dia miliki tinggi.
Contoh kasus:
“Elisa memiliki karakter histrionik. Suaminya
bekerja di sebuah perusahaan, terkadang harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan
beberapa urusan. Elisa tidak bersedia ditinggal oleh suaminya, oleh karena itu
dia akan berusaha mengikuti suaminya kemanapun. Jika kondisi tidak memungkinkan
dia ikut, maka dia akan mencari berbagai alasan agar suaminya tidak pergi.
Elisa akan melakukan manipulasi keadaan, misal dia mengaku sakit (padahal tidak
sakit/bohong). Dia akan berusaha keras agar orang-orang disekitarnya
memperhatikannya secara berlebihan. Dia ingin menjadi pusat perhatian”.
-Karakter histrionik hampir sama dengan karakter narsistik-
Kesimpulan:
Secara
bahasa umum, karakter tersebut sama dengan “Riya”. Allah tidak menyukai hamba-Nya
yang berlebihan. Dalam hal ini penderita histrionik merupakan individu yang
suka melebih-lebihkan apa yang dia miliki dan memamerkannya. Tercantum dalam
QS. An Nisa : 38, QS. Al Baqarah : 264,
QS. Al Furqaan : 67.
Berikut dijelaskan karakter ambivalen
(perpaduan dua karakter yang berlawanan). Ambivalen dependen merupakan karakter
yang bergantung terhadap orang lain atau masih bisa bergabung dalam
tim/geng/kelompok tertentu. Sedangkan ambivalen independen merupakan suatu
karakter yang merasa dirinya tidak membutuhkan orang lain, cenderung kurang
bergaul dan jauh dari teman-temannya karena merasa tidak nyaman berada di
dekatnya. Terdapat dua tipe karakter ambivalen, sebagai berikut:
·
Pasif agresif
1. Pribadi yang selalu mundur dalam
menghadapi perselisihan, memilih mengalah daripada menghadapi orang atau
situasi secara langsung, tetapi sejatinya terus mencari cara untuk membalas.
2. tidak mampu meledakkan emosi, hanya
diperlihatkan dengan ekspresi wajah (ex : cemberut-kalau tidak suka/tdk
setuju), tetapi menyimpan dendam yang luar biasa.
3. menghindari tanggung jawab dengan klaim
lupa, mengeluh dan merasa dendam.
4. menghindari konfrontasi langsung/frontal
, tetapi menusuk dari belakang atau dengan tindakan-tindakan yang langsung
merugikan.
5. Terlihat pasif melawan, tetapi agresif
dan aktif melakukan keinginan membalas “kekalahan”.
Contoh kasus:
Bima
merupakan salah satu karyawan sebuah perusahaan tekstil di Bekasi. Dia dikenal
sebagai pekerja ulet dan tidak mudah marah. Kawan-kawan di sekitarnya memanggil
namanya dengan sebutan si “oncom”. Dia terlihat biasa saja dengan sebutan tersebut.
Akan tetapi, pada suatu hari salah satu kawannya, Zeky menyapanya, “hai oncom,
lagi ngapain?”. Secara tiba-tiba Bima marah, raut mukanya ketus dan menjawab,
“nama saya bukan oncom…!!”. Bima membludakan emosinya yang terpendam sekian
lama. Sebenarnya Bima tidak menyukai panggilan tersebut, akan tetapi Bima
menyimpan kekesalan dan rasa dendamnya dalam hati, hingga pada batas waktu
tertentu Bima menyalurkan emosinya. Untuk membalas rasa sakit hatinya, Bima
memfitnah Zeky telah menghilangkan berkas penting punya bosnya.
·
Obsesif kompulasif
1. Detail, daftar, perintah, pengaturan,
atau terjadwal.
2. Memperlihatkan kesempurnaan.
3. Pekerja keras
4. Sangat teliti,
kesopanan, dan keteguhan moral, etika, atau nilai.
5. Memanfaatkan sesuatu yang menurut orang
lain itu sudah usang.
6. Enggan
mendelegasikan tugas atau pekerjaan kepada orang lain jika mereka tidak
mengajukan secara tepat caranya mengerjakan.
7. Perhitungan dan berpikir panjang.
8. kaku dan keras
kepala.
9. Merasa takut orang lain tersinggung.
10. Habis dengan pikirannya sendiri,
“jangan-jangan….”.
Contoh kasus:
Riza merupakan salah
satu siswa SMP di Bandung. Seorang guru matematika memberikan soal latihan
kepada seluruh siswa. Soal latihan tersebut dikerjakan secara berkelompok
selama 30 menit. Riza memiliki karakter obsesif kompulsif, sehingga pengerjaan
soal latihan pun harus berurutan dari nomor pertama. Ternyata soal nomor
pertama lumayan sulit, Riza dan teman-temannya merasa kesulitan menjawabnya.
Temannya mengusulkan untuk mengerjakan soal nomor berikutnya terlebih dahulu
(yang lebih mudah) agar waktu pengerjaan bisa lebih efisien, akan tetapi Riza
tetap tidak mau, dia kukuh harus mengerjakan soal nomor pertama dulu. Temannya
merasa keki pada Riza karena kurang fleksibel. Akhirnya waktu 30 menit yang
diberikan oleh guru habis digunakan untuk mendebat pengerjaan urutan nomor
soal.
1. Memiliki persepsi bahwa dia merasa
diabaikan/ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.
2. Mempunyai rasa cemas yang berlebihan
3. Sibuk dengan dirinya sendiri
4. Menganggap dirinya tidak mampu
5. Terlihat “bloon/oon” padahal sebenarnya
cerdas
6. Lebih senang menyendiri
7. Mudah dipengaruhi lingkungan
8. Cuek
9. Tampil beda dan mencolok
10. Watados (wajah tanpa dosa) alias
“lempeng dot com”
Contoh kasus:
Ganjar
merupakan salah satu mahasiswa teknik perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Penampilannya begitu eksotis, cuek, mencolok dan eksentris. Terkadang dia
bergaya Koreanese dengan memperlihatkan gaya rambutnya ala boyband. Namun, di
hari lain akan memperlihatkan gaya yang berbeda, terkadang dia tidak memperhatikan
kebersihan dan kerapihan pakaian yang digunakannya. Suatu ketika, dia hang-out dengan
om-nya, kemudian ada seseorang yang melintas di depannya, dengan tiba-tiba
Ganjar berkata, “om, orang tadi kayak monyet yaa..!!”. Gubraaak. Sebenarnya,
Ganjar tidak menyadari perilakunya salah (lempeng dot com). Sehingga Ganjar
harus didampingi secara intensif dalam pembelajaran. Jika menyuruhnya berbuat
sesuatu harus diterangkan secara terperinci, seperti menjelaskan sesuatu kepada
anak sekolah dasar kelas 3.
Semua tipe
karakter di atas bukan untuk memparsialkan diri dan membuat sekat “perbedaan”
diantara kita. Tujuan pembagian karakter tersebut agar kita dapat memahami
orang lain dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Right^^.
(Disarikan dari
berbagai referensi dengan modifikasi penulis : Jurnal Psikologi, 102.7 mq fm
radio, Psikologi Terapan-Anak Langit, dll)
Betapa aku ingin memahamimu^^
7 dan 8 Juni’12 9.31 pm
Aish, pojok kamar Poka-2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar