Rabu, 27 Juni 2012

…Agar Kau Mengerti…

Self mapping (personality disorder):
Bermacam karakter yang sering kita jumpai dalam keseharian, misalnya:
Kasus 1: “sueer…!! orangnya rapi banget, detail, sistematis, lantai kamar kosnya cling deehh, barang-barang di kamarnya tertata dengan baik”
Kasus 2: ”caper banget sih dia, suka mengada-ngada padahal tidak mampu, selalu pengen terlihat keren”
Kasus 3: ”ya ampuun…orangnya cuek abiis, tidak memperhatikan penampilan sama sekali, kalau bicara semaunya, tidak menyadari lawan bicaranya sakit hati”
Kasus 4: ”dia ramah banget, supel, langsung akrab. Costumer service laah”
Kasus 5: ”didepan siih dia terlihat slow down, tapi ternyata menusuk dari belakang. Ibarat blangkon”
Pernah kan kamu menjumpai orang-orang yang memiliki karakter seperti di atas? Naaah…karakter manakah yang menurut kamu ituuu “gue banget”?, okee di bawah ini akan dijelaskan beberapa karakter diri.
*               Narsistik
1.       Merasa diri paling hebat
2.       Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious of others or believes that others are envious of him or her).
            3.   Merasa sukses dan  pintar
            4.   Sangat ingin dikagumi (requires excessive admiration).
            5.   Kurang empati  (lacks of empathy : is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs of others).
            6.   Merasa layak memperoleh keistimewaan (has a sense of entitlement).
            7.   Angkuh dan sensitif terhadap kritik (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
            8.   Over percaya diri
            9.   Yakin bahwa dirinya khusus, unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus dengan  orang atau institusi yang khusus atau memiliki status tinggi.
10. Merasa superior, selalu ingin merasa unggul dan takut direndahkan.
11. Perumpamaan : “lebih suka menjadi ikan BESAR di kolam SEMPIT daripada menjadi ikan KECIL di kolam LUAS”

Contoh kasus:
“Galih merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Ia dipercaya oleh dosennya untuk menjadi seorang asisten. Dia merasa senang dan bangga atas dirinya, sehingga dia akan memperlihatkan performa terbaiknya. Ketika dia mendapatkan pujian/penghargaan, dia merasa dirinya paling hebat. Ketika penghargaan itu hilang darinya, dia akan berusaha mendapatkannya kembali, bagaimana pun caranya. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk terlihat eksis dan keren. Dia akan melakukan berbagai macam cara agar orang-orang di sekitarnya menghargai dan mengaguminya. Dia haus akan pujian”.
Contoh lain: kisah seorang Arab Baduy pada zaman Rasulullah. “seorang arab baduy membuang air kecil (kencing) secara sembarangan ditempat ibadah kaum muslimin. Kemudian para sahabat marah terhadap perbuatan seorang arab baduy tersebut hingga hendak memukulnya. Akan tetapi, Rasulullah tidak marah sama sekali. Beliau hanya memerintahkan para sahabat untuk menyiramkan air ke tempat tersebut (tempat yang dikencingi seorang arab baduy). Begitulah cara Rasulullah mendidik para sahabat dan seorang arab baduy”. Seorang arab baduy ini memiliki sifat narsistik, dia merasa hebat dan unggul di atas kaum muslimin, sehingga ia membuang air kecil secara sembarangan di tempat ibadah kaum muslimin. Sikap yang ditunjukkan seorang arab baduy tersebut merupakan bentuk –merendahkan- kaum muslimin.
Kesimpulan:
Secara bahasa umum, karakter tersebut sama dengan “Sombong”. QS. Luqman : 18, QS. Al Hadiid : 23, QS. Al Israa : 37.
*                  Histrionik
1.       Ramah dan mudah bergaul
2.       Suka berbagi agar membuat orang lain senang
3.       Ingin dianggap ramah dan lucu.
4.       Mencari pembenaran dan dukungan dari orang lain.
5.       Memaksakan kehendak terhadap orang lain.
6.       Terlalu mendramatisir keadaan dengan menunjukkan reaksi emosi yang berlebihan (drama queen).
7.       Terlalu sensitif terhadap kritikan dan ketidaksetujuan dari lingkungan.
8.       Sikap atau penampilan menggoda yang tidak pada tempatnya.
9.       Terlalu perhatian pada penampilan fisik.
10.    Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.
11.    Toleransi yang rendah terhadap frustasi dan kegagalan (kegembiraan yang tertunda).
12.    Menunjukkan perubahan emosi secara cepat.
13.    Mudah GR, melambung…
14.    Membuat keputusan secara terburu-buru.
15.    Mengancam akan melakukan tindakan bodoh untuk mendapatkan perhatian (misalnya bunuh diri).
16.    kebutuhan akan perhatian dan sikap posesif terhadap apa pun yang dia miliki tinggi.

Contoh kasus:
“Elisa memiliki karakter histrionik. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan, terkadang harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan beberapa urusan. Elisa tidak bersedia ditinggal oleh suaminya, oleh karena itu dia akan berusaha mengikuti suaminya kemanapun. Jika kondisi tidak memungkinkan dia ikut, maka dia akan mencari berbagai alasan agar suaminya tidak pergi. Elisa akan melakukan manipulasi keadaan, misal dia mengaku sakit (padahal tidak sakit/bohong). Dia akan berusaha keras agar orang-orang disekitarnya memperhatikannya secara berlebihan. Dia ingin menjadi pusat perhatian”. -Karakter histrionik hampir sama dengan karakter narsistik-

Kesimpulan:
Secara bahasa umum, karakter tersebut sama dengan “Riya”. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berlebihan. Dalam hal ini penderita histrionik merupakan individu yang suka melebih-lebihkan apa yang dia miliki dan memamerkannya. Tercantum dalam QS. An Nisa : 38, QS. Al Baqarah : 264, QS. Al Furqaan : 67.

*               Ambivalen (dependen dan independen) 
Berikut dijelaskan karakter ambivalen (perpaduan dua karakter yang berlawanan). Ambivalen dependen merupakan karakter yang bergantung terhadap orang lain atau masih bisa bergabung dalam tim/geng/kelompok tertentu. Sedangkan ambivalen independen merupakan suatu karakter yang merasa dirinya tidak membutuhkan orang lain, cenderung kurang bergaul dan jauh dari teman-temannya karena merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Terdapat dua tipe karakter ambivalen, sebagai berikut:

·         Pasif agresif
1.       Pribadi yang selalu mundur dalam menghadapi perselisihan, memilih mengalah daripada menghadapi orang atau situasi secara langsung, tetapi sejatinya terus mencari cara untuk membalas.
2.       tidak mampu meledakkan emosi, hanya diperlihatkan dengan ekspresi wajah (ex : cemberut-kalau tidak suka/tdk setuju), tetapi menyimpan dendam yang luar biasa.
3.       menghindari tanggung jawab dengan klaim lupa, mengeluh dan merasa dendam.
4.       menghindari konfrontasi langsung/frontal , tetapi menusuk dari belakang atau dengan tindakan-tindakan yang langsung merugikan.
5.       Terlihat pasif melawan, tetapi agresif dan aktif melakukan keinginan membalas “kekalahan”.

Contoh kasus:
Bima merupakan salah satu karyawan sebuah perusahaan tekstil di Bekasi. Dia dikenal sebagai pekerja ulet dan tidak mudah marah. Kawan-kawan di sekitarnya memanggil namanya dengan sebutan si “oncom”. Dia terlihat biasa saja dengan sebutan tersebut. Akan tetapi, pada suatu hari salah satu kawannya, Zeky menyapanya, “hai oncom, lagi ngapain?”. Secara tiba-tiba Bima marah, raut mukanya ketus dan menjawab, “nama saya bukan oncom…!!”. Bima membludakan emosinya yang terpendam sekian lama. Sebenarnya Bima tidak menyukai panggilan tersebut, akan tetapi Bima menyimpan kekesalan dan rasa dendamnya dalam hati, hingga pada batas waktu tertentu Bima menyalurkan emosinya. Untuk membalas rasa sakit hatinya, Bima memfitnah Zeky telah menghilangkan berkas penting punya bosnya.

·         Obsesif kompulasif
1.       Detail, daftar, perintah, pengaturan, atau terjadwal.
2.       Memperlihatkan kesempurnaan.
3.       Pekerja keras
4.       Sangat teliti, kesopanan, dan keteguhan moral, etika, atau nilai.
5.       Memanfaatkan sesuatu yang menurut orang lain itu sudah usang.
6.       Enggan mendelegasikan tugas atau pekerjaan kepada orang lain jika mereka tidak mengajukan secara tepat caranya mengerjakan.
7.       Perhitungan dan berpikir panjang.
8.       kaku dan keras kepala.
9.       Merasa takut orang lain tersinggung.
10.    Habis dengan pikirannya sendiri, “jangan-jangan….”.

Contoh kasus:
Riza merupakan salah satu siswa SMP di Bandung. Seorang guru matematika memberikan soal latihan kepada seluruh siswa. Soal latihan tersebut dikerjakan secara berkelompok selama 30 menit. Riza memiliki karakter obsesif kompulsif, sehingga pengerjaan soal latihan pun harus berurutan dari nomor pertama. Ternyata soal nomor pertama lumayan sulit, Riza dan teman-temannya merasa kesulitan menjawabnya. Temannya mengusulkan untuk mengerjakan soal nomor berikutnya terlebih dahulu (yang lebih mudah) agar waktu pengerjaan bisa lebih efisien, akan tetapi Riza tetap tidak mau, dia kukuh harus mengerjakan soal nomor pertama dulu. Temannya merasa keki pada Riza karena kurang fleksibel. Akhirnya waktu 30 menit yang diberikan oleh guru habis digunakan untuk mendebat pengerjaan urutan nomor soal.

*               The touch 
1.       Memiliki persepsi bahwa dia merasa diabaikan/ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.
2.       Mempunyai rasa cemas yang berlebihan
3.       Sibuk dengan dirinya sendiri
4.       Menganggap dirinya tidak mampu
5.       Terlihat “bloon/oon” padahal sebenarnya cerdas
6.       Lebih senang menyendiri
7.       Mudah dipengaruhi lingkungan
8.       Cuek
9.       Tampil beda dan mencolok
10.    Watados (wajah tanpa dosa) alias “lempeng dot com”

Contoh kasus:
Ganjar merupakan salah satu mahasiswa teknik perguruan tinggi negeri di Jakarta. Penampilannya begitu eksotis, cuek, mencolok dan eksentris. Terkadang dia bergaya Koreanese dengan memperlihatkan gaya rambutnya ala boyband. Namun, di hari lain akan memperlihatkan gaya yang berbeda, terkadang dia tidak memperhatikan kebersihan dan kerapihan pakaian yang digunakannya. Suatu ketika, dia hang-out dengan om-nya, kemudian ada seseorang yang melintas di depannya, dengan tiba-tiba Ganjar berkata, “om, orang tadi kayak monyet yaa..!!”. Gubraaak. Sebenarnya, Ganjar tidak menyadari perilakunya salah (lempeng dot com). Sehingga Ganjar harus didampingi secara intensif dalam pembelajaran. Jika menyuruhnya berbuat sesuatu harus diterangkan secara terperinci, seperti menjelaskan sesuatu kepada anak sekolah dasar kelas 3.

Semua tipe karakter di atas bukan untuk memparsialkan diri dan membuat sekat “perbedaan” diantara kita. Tujuan pembagian karakter tersebut agar kita dapat memahami orang lain dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Right^^.

(Disarikan dari berbagai referensi dengan modifikasi penulis : Jurnal Psikologi, 102.7 mq fm radio, Psikologi Terapan-Anak Langit, dll)
Betapa aku ingin memahamimu^^
7 dan 8 Juni’12 9.31 pm
Aish, pojok kamar Poka-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar