Bismillah…
Menghayati
sepenggal biografi Ustdz.Yoyoh Yusroh (Almarhumah, semoga Allah merahmatinya)
sangat menghentak alam bawah sadar saya. Begitu inspiratif..!!. Beliau
mengajarkan sebuah perjuangan keras dalam mengarungi bahtera kehidupan yang
begitu sporadis seperti sekarang ini. Pengalaman jiwanya ketika masa kecil
hingga penutup usianya yang ke-49 tahun sungguh LUAR BIASA. Pengorbanan demi
pengorbanan yang beliau persembahkan untuk ummat ini, dari mulai waktu, harta,
bahkan jiwa. Seorang wanita yang berani mengambil sebuah keputusan besar untuk
berdakwah di bidang politik demi memperbaiki Negara yang mulai terseok-seok ini.
Beliau menempati amanah di kursi DPR RI selama 3 periode berturut-turut.
Periode pertama di komisi I, dengan ruang lingkup kerja dalam bidang
pertahanan, intelijen, luar negeri, serta komunikasi dan informatika. Periode
selanjutnya, beliau berada di komisi VII, dengan ruang lingkup kerja di bidang
energi SDM, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup. Di akhir periodenya,
beliau fokus dengan ruang lingkup kerja di bidang agama, sosial, dan
pemberdayaan perempuan yang berada di komisi VIII. Beliau juga salah satu tim
perintis UU Anti Pornografi, serta UU PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga). Meski demikian, pun beliau dapat menunaikan tugas utamanya -dengan baik- sebagai seorang istri dan
ibu bagi putera-puterinya yang berjumlah 13 orang. Beliau tidak pernah merasa
direpotkan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan ditengah kesibukannya,
beliau selalu meluangkan waktu bersama keluarga meski hanya 15 menit saja. Dari
waktu yang begitu singkat itu, beliau selalu meninggalkan sebuah kenangan manis
dan kesan di hati anak-anak dan suaminya. Begitulah cerita singkat sang
shohabiyyah abad 21 ini.
Sebelum
beliau meninggalkan dunia yang penuh fatamorgana ini dan menghadap sang Kekasih
yang dirindu, Allah Azza wajalla, beliau meninggalkan sebuah nasihat bagi
putera-puterinya:
……..(singkat)……...
Wahai puteraku…
Jika engkau hendak mengkritik,
Biasakan untuk melihat dengan mata tawon
lebah,
Dan jangan memandang orang lain dengan
mata lalat,
Sebab engkau akan terjatuh kepada
perkara yang busuk..!!
Akan
aku ceritakan kepadamu kisah seekor kambing dan serigala,
Supaya engkau aman dari orang yang
berbuat makar,
Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu,
Jangan
sampai engkau menghianatinya..!!
Akan aku ajak engkau ke sarang singa,
Akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak
menjadi raja hutan dikarenakan aumannya..!
Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi,
Tidak mau memakan hasil buruan binatang
lain,
Betapa pun ia lapar dan perutnya
melilit-lilit,
Jangan mencuri jerih payah orang lain,
Sebab
engkau menjadi keji..!!
Wahai Puteraku…
Biasakan engkau bersyukur kepada Allah,
Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur
kepada-Nya,
Bahwa engkau dapat berjalan, mendengar,
dan melihat
Bersyukurlah pada Allah dan syukuri pula
manusia,
Sebab Allah akan menambah orang-orang
yang bersyukur,
Dan
manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu
menghargainya..!!
Jangan berkeluh kesah,
Aku harap engkau optimis..!!
Siap menghadapi kehidupan,
Jauhilah orang-orang yang putus asa dan
pesimis,
Lari dari mereka..!!
Dan
jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada
segala hal.
Jangan bersedih Wahai puteraku terhadap
apa yang terjadi dalam kehidupan,
Sebab kita tidak diciptakan kecuali
untuk diuji dan diberi cobaan,
Sehingga Allah melihat kita,
Adakah kita bersabar?
Karena itu…
Santai saja…
Jangan keruh hati,
Yakinlah…!! Bahwa jalan keluar dekat,
“Jika mendung semakin hitam, pertanda
sebentar lagi hujan..!!”
……..(singkat)……...
Sekarang,
bagaimana dengan kita? Mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri dan ibu
yang akan melahirkan generasi-generasi penerus risalah para Anbiya. Sejauh mana
perjalanan pengorbanan kita dalam dakwah ini?. Terkadang mungkin kita terjebak
pada rutinitas tanpa makna. Padahal dari sinilah kita belajar, belajar tentang
sebuah arti hidup. Memaknai setiap jengkal waktu yang Allah amanahkan pada
kita. Digunakan untuk apa?. Sudahkah kita memantaskan diri untuk menjadi
seorang ibu yang diridhoi oleh-Nya? dimana Dia selalu memberkahi tiap peluh
yang kita rasakan.
Lagi-lagi
saya teringat lirik lagunya mas Ebiet G Ade yang syarat makna, berikut ini...
……..(singkat)……...
Aku akan turun berkebun mengerjakan
sawah dan ladang ku sendiri,
Dan menuai padi yang kuning dengan istri
dan anak ku,
Memang cita-citaku sederhana sebab aku
terlahir dari desa,
Istriku
harus cantil, lincah, dan gesit…
Tapi,
ia juga harus cerdik dan pintar,
Siapa tahu nanti aku yang terpilih jadi
kepala desa
Kan ku bangkitkan semangat rakyatku dan
ku bangun desaku
……..(singkat)……...
(Ebiet G Ade : Cita-cita kecil si anak
desa)
Begitulah…
Seorang istri dan ibu memang harus penuh
kecerdasan. Cerdas mengatur waktu, finansial, pekerjaan rumah, kantor,
keluarga, organisasi, mengelola halaqoh, mengemban amanah sebagai da’iyah, dan
banyak lagi. Seorang ibu harus bisa menyelesaikan pekerjaan yang begitu
menumpuk dalam satu waktu. LUAR BIASA. Naah…tidak ada salahnya kita belajar
dari sekarang untuk menjadi multy tasking
yang handal, tetap teratur dan disiplin. Agar kelak ketika kita tidak lagi
mengurus diri sendiri (sudah berkeluarga), kita sudah terbiasa dengan kondisi multy tasking. Belajar mempersiapkan
diri untuk menjadi Istri dan Ibu yang LUAR BIASA.
Note
bagi para ikhwan:
Beginilah kiprah para muslimah…
Pundaknya memikul amanah yang amat berat
dan banyak. Tapi, hatinya tetap tegar dan kokoh demi keluarganya. Jadi,
kasihilah ibumu, berlemah lembutlah padanya, bantu ia dalam meringankan
pekerjaan-pekerjaannya. Terlihat sepele, tapi lihat…!! sekarang kau tumbuh
dewasa karena keikhlasannya membesarkanmu. Pun, jangan sungkan membantu istrimu
kelak dalam menyelesaikan tugas-tugasnya (multy
tasking) di rumah atau dimanapun.
Saling mengingatkan, berbagi, dan
mari belajar…!!
21. 25 wib
Pondok kaca-2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar