Bait-bait terpancar dari lisan yang tiada daya memilah
sebuah kata. Mungkinkah sekeping hati tetap dalam ketawadhuannya? tawadhu
menerima bait-bait yang senantiasa mengalir darinya, meskipun sakit terasa. Terkadang
memang diri tak kuasa membelenggu bait hati yang ingin terurai melalui
kata-kata, hmm...meskipun pada akhirnya tidak didapati kepuasan diri.
Sering diantara para aktivis dakwah memperdebatkan seribu
satu hal -yang awalnya- bertujuan untuk memperoleh solusi. Ternyata apa
yang terjadi kawan? banyak hati yang tergores oleh bait-bait kata yang keluar
dari lisan kita. Memang perlu sebuah pengorbanan lebih....lebih dari
sekedar....hmm yaahh, lebih dari sekedar kata yang terucap. Kata yang tidak
kita sadari telah meninggalkan luka di hati. Dakwah ini membutuhkan kepribadian
kita, bukan hanya lisan kita.
Tidak sedikit...kawan kita yang mundur teratur dari
jamaah ini. Apa gerangan yang mendorongnya untuk bersikap tak acuh lagi? mungkinkah
lisan ini yang menjadi penyebab rontoknya sebuah kepercayaan terhadap jamaah
ini? Yaa... mungkin. Mungkin lisan ini sering mengeluarkan ‘teguran’ padanya
tanpa kita tahu kondisi hatinya, tanpa kita tahu masalahnya, tanpa kita tahu
hambatannya, tanpa kita tahu....!! kita hanya menuntut dan menuntut, begitulah.
Kelemahan-kelemahan bawaan yang ada pada diri manusia
juga ada di jamaah dakwah, yaah...karena jamaah itu hanya komunitas manusia,
komunitas yang membutuhkan perbaikan secara berkesinambungan, tidak lantas asal
tegur dan disalahkan. Cukup sudah ia merasa lelah dalam menunaikan tugas-tugas
dakwahnya, jangan sampai bait-bait kata kita memperkeruh suasana hatinya.
Kawan, mari belajar ‘lebih banyak mendengarkan’ daripada
mengeluarkan beribu-ribu bait dari lisan kita dan merasa lebih unggul satu sama
lain, astaghfirullah. Sebait kata yang terucap dari lisan ini akan dipertanggungjawabkan
di mahkamah-Nya.
Pondok kaca-2,
8.46 PM
Kala aktivis alpa dengan
lisannya dan terlalu banyak menuntut...
_Aish_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar